Rabu, 08 Agustus 2012

Jumat, 11 November 2011

11.11.11: History Begins Every Morning

It'd be plainly wrong to ignore this date and post nothing. But since I haven't had the time to think of any topic, I'd just write whatever thought that crossed my mind today.

My Table Calendar
I got the table calendar above from Tag Heuer. No, I didn't own their products (yet!), I just happened to be at the right place at the right time with the right person (who provided the right answer for the quiz). Engraved on the top of it was "History Begins Every Morning" (no, you couldn't see it in the picture).

As I set the calendar to today's date, my eyes accidentally fell upon the sentence. And as I took my 15 minutes walk to get my morning coffee, I thought of what history would begin today, and how special this date was (and betting against myself that there would be tons of people planning their marriages, parties, house warmings, business setups, etc today), and how it wouldn't repeat itself in another 100 years (which I doubt I would ever experience), and it was then that I realized something.

I woke up. Figuratively. Not today, but some time not so long ago.

Come to think of it, I had been living a blessed life all my life. And at some time of it, I became ungrateful. There were times I took things for granted. I had placed myself in prideful roles among members of my family, among friends, among colleagues and church workers, within relationships, and even to God. I totally forgot that I was too a mortal and a sinner bound to die one day.

But God did send me a wake up call. A rough one at that. The one that reminded me of how Samson had been betrayed by Delilah, had his eyed gouged out by the Philistines, and had been ultimately humiliated in front of his most hated enemies (Judges 16). He chose to live in pride and sin and he got served. He had had his chance, his time, and he ruined it with his own hands (and mouth, actually).

But God is kind. Too kind in this too short kind of life. In the end, Samson fulfilled his lifelong purpose and killed more God's enemies than he had ever killed before. And today we read about him and his heroic tales to our children. Today we admired him as one of the most influential judges the Israel ever had. We were familiar with his name even more than Ehud or Othniel or even the Deborah - Barak duo. Today, as we can see in Judges 16:30, we believed that Samson lived and died without any regrets left. Today, we praised God because of Samson. 

Today, I hoped for the second chance to fulfill my purpose in life just like the one Samson had been given.

So today, I'm fully awake. Much more grateful of my days than I've ever been in my whole life. I smiled more. I sang more. I danced more. I enjoyed life more. And I worked on my weaknesses more (so help me, God). Hopefully I would also write more as I had promised.

As we came to a close, how are you living your life today? In all honesty, would you need a wake up call? If you do, have you had yours? Let's wake up every morning and write our history. The one that blesses people and praises God like the one Samson wrote in his last day. And every time you and I start to stray away from what we should be, let's remember 11.11.11 and be reminded.

The Coffee I Got This Morning



Senin, 31 Oktober 2011

Sekapur Sirih Hari Reformasi

31 Oktober merupakan hari yang diperingati oleh orang Kristen sebagai hari yang bersejarah dimana sekian ratus tahun yang lalu, Martin Luther menuliskan dan menempelkan 95 Dalil di pintu gereja di Wittenberg, Jerman, untuk memprotes Gereja Katolik Roma dan Paus yang menjalankan praktek-praktek yang tidak Alkitabiah (terutama penjualan surat indulgensia yang dapat mengampuni dosa). Setelah itu di seluruh Eropa dan meluas ke seluruh dunia terjadi kebangunan besar-besaran umat Tuhan yang kembali kepada kehidupan berdasarkan Alkitab semata (sola scriptura).

Satu hal yang menarik dari kehidupan Martin Luther di samping segala sepak terjangnya memperjuangkan reformasi adalah salah satu perkataannya, "Even if I knew that tomorrow the world would go to pieces, I would still plant my apple tree." yang artinya adalah, "walaupun seandainya Saya mengetahui bahwa besok dunia akan hancur, Saya akan tetap menanam pohon apel Saya."

Etos kerja gereja pasca reformasi yang dicontohkan oleh baik Martin Luther maupun John Calvin dan para reformator lainnya merupakan salah satu penggerak dunia menuju ke era modern yang kita kenal hari ini. Alangkah sayangnya jika hari ini, kita kehilangan etos kerja yang seharusnya merupakan warisan umat Tuhan kepada dunia. Dan lebih sayang lagi jika hari ini, dunia mempertontonkan etos kerja Kristiani dan orang Kristen diam bermalas-malasan dan tidak memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya. 

"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Kolose 3:23


Rabu, 26 Oktober 2011

Dan Siapakah Sesamaku Manusia?

Kurang lebih satu minggu lalu, terjadi gelombang kemarahan di dunia maya akibat suatu peristiwa tabrak lari seorang anak kecil di Cina dimana anak tersebut ditabrak oleh dua mobil berturut-turut dan tidak satupun yang berhenti. Yang memperparah keadaan, 18 orang berlalu sebelum akhirnya seorang pemulung menolong anak kecil tersebut dan membuat kita bertanya-tanya tentang masih adakah belas kasihan terhadap orang asing di dunia ini.

Editor's Note: Penulis memutuskan untuk tidak memuat tautan apa pun sehubungan dengan kejadian tersebut. Laporan, video, berita, pembahasan, dan segala jenis informasi mengenai kejadian ini dapat dengan mudah ditemukan di berbagai mesin pencari di internet.

Terlepas dari keadaan anak yang ditolong tersebut, adanya orang-orang yang berlalu begitu saja setelah melihat dan adanya tokoh pemulung yang baik hati dalam kejadian tersebut dapat dengan mudah mengingatkan kita pada orang Samaria yang baik hati dalam perumpamaan yang pernah diceritakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 10:25-37, bukankah demikian? 

Perhatikan ayat 30-35 terlebih dahulu: 

30 "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.  
32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 
33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 
34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 
35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali."

Apa yang kita ingat pernah kita pelajari dari perumpamaan tersebut? Bukankah kita belajar mengenai sesama manusia bagi kita? Dan bahwa sesama kita manusia tidak terbatas pada hal-hal yang dilihat oleh manusia seperti ras dan agama? Dan bahwa mengasihi sesama kita manusia merupakan hal yang sangat Tuhan ingin kita lakukan? Dan bahwa dalam mengasihi maupun menolong, kita harus melakukannya sampai tuntas? Bukankah itu semua yang kita mengerti dan pelajari dari orang Samaria yang baik hati tersebut ketika kita membaca ataupun mendengar mengenai perikop itu? 

Lalu apa yang kita ingat pernah kita rasakan ketika membaca perumpamaan tersebut? Mungkin kita merasa malu, karena selama ini sering tidak bertindak seperti orang Samaria tersebut. Mungkin juga kita merasa ditegur oleh Tuhan dan diajar kembali mengenai mengasihi sesama. Dan mungkin juga serangkaian perasaan lain yang setelahnya tentu membuat kita merasa juga lebih bijaksana dan mengerti mengenai sesama manusia bagi kita. Hanya saja, tepatkah sebenarnya perasaan yang kita rasakan tersebut?

Di antara ramainya pemberitaan mengenai kejadian di awal tulisan ini dan perikop mengenai perumpamaan ini, ada sesuatu yang terasa mengganjal ketika perenungan kita berhenti sampai di sana. Dua buah kejadian, satu kejadian nyata dan satu perumpamaan yang walaupun sangat mirip, tetapi memberi kita reaksi yang berbeda. Mengapa kita tidak merasa malu ketika kita membaca berita tabrak lari tersebut? Atau mengapa kita tidak marah ketika kita membaca perumpamaan orang Samaria ini? Apakah hanya semata-mata karena kita tahu yang satu kejadian yang benar-benar terjadi dan yang satu adalah cerita dari sebuah buku?

Sebelum membaca lebih jauh, kita perlu tahu bahwa apa yang kita tahu selama ini tentang cerita ini dan apa implikasinya bagi kehidupan kita baik itu tentang mengasihi maupun hal lainnya yang terdapat di bagian awal tulisan ini adalah sesuatu yang memang benar. Dan kita harus terus berpegang kepada keyakinan bahwa kasih harus ditunjukkan kepada semua orang yang membutuhkan. Hanya saja, ada satu sisi tambahan yang sangat menarik yang bisa kita lihat lebih jauh.

Ketika kita merenungkan mengenai hal ini, adalah satu hal yang menarik ketika kita mulai membayangkan urutan kejadian yang terjadi dalam perikop tersebut. Dan dalam membayangkan atau memvisualisasikannya, biasanya satu dari dua bayangan ini yang muncul dalam pikiran kita.

Yang pertama, kita cenderung melihat kejadian ini dari atas. Kita melihat seorang yang dirampok. Kita melihat dua orang suci yang lewat tetapi tidak menolong. Lalu kita melihat orang Samaria yang baik hati yang menghampirinya dan menolongnya sampai tuntas. Sebagian besar orang akan membayangkan kejadian ini seperti demikian.

Yang kedua, bagi kita yang lebih mudah berempati dengan orang lain, kita akan cenderung melihat kejadian ini dari sudut pandang orang-orang yang lewat. Kita akan membayangkan kita berjalan sebagai iman atau orang Lewi dan melihat orang yang tergeletak sehabis dirampok. Lalu kita mungkin akan merasa takut menolong atau malas menolong atau sekedar merasa bahwa menolong adalah sesuatu yang merepotkan dan lalu pergi begitu saja. Lalu kita akan melihat kembali orang tersebut dari sudut pandang orang Samaria dan merasa kasihan. Kemudian menolongnya sampai tuntas.

Hanya saja, benarkah cara memandang yang demikian? Mari kita lihat satu ayat sebelum Yesus menceritakan perikop ini:

29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

Dan setelah menceritakan perumpamaan tersebut, Yesus bertanya kembali kepada Ahli Taurat tersebut:

36 "Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"

Di dalam perumpamaan tersebut, seringkali kita mengira bahwa Yesus sedang menonjolkan tokoh orang Samaria yang baik hati tersebut. Bahwa orang Samaria yang baik hati tersebut adalah tokoh utama dari perumpamaan tersebut. Sang protagonist atau pahlawan dalam cerita itu. The Good Samaritan bahkan sudah menjadi sebuah istilah umum untuk menggambarkan orang yang rela menolong orang asing yang tidak dikenalnya. Sebegitu besarnya pengaruh orang Samaria tersebut, sampai kita tidak sadar bahwa sebenarnya dia hanyalah pemeran pembantu.

Ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus tentang siapakah sesama manusia bagi dirinya. Dan Yesus bertanya kembali kepada dia tentang siapakah sesama manusia bagi orang yang dirampok tersebut. Yesus membalikkan sudut pandang Ahli Taurat tersebut secara revolusioner. Yesus tidak menyamakan Ahli Taurat itu dengan salah seorang yang lewat dan sanggup memberikan pertolongan kepada korban perampokan. Yesus menyamakan Ahli Taurat itu dengan korban perampokan itu sendiri.

Jadi, cerita ini bukan tentang imam dan orang Lewi yang tidak menganggap orang yang dirampok tersebut sesama manusia bagi mereka. Cerita ini juga bukan tentang orang Samaria baik hati yang menganggap korban perampokan sebagai sesama manusia bagi dia. Cerita ini adalah tentang seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, dirampok habis-habisan, dan terbaring di sana menantikan sesama manusia bagi dirinya. Sudut pandang ketiga yang jarang mau kita ambil dalam membayangkan cerita ini, yaitu sudut pandang seseorang yang tergeletak, dengan pandangan yang sudah kabur melihat seorang imam dan seorang Lewi berlalu. Sampai kemudian dia melihat seorang Samaria yang seharusnya dibencinya ternyata menunjukkan belas kasihan kepada dirinya. Dan orang Samaria itulah ternyata sesama manusia bagi dirinya. Cerita ini adalah untuk menunjukkan kepada orang Yahudi tersebut bahwa sesama manusia itu bukanlah satu kategori. Sesama manusia adalah sebuah penerimaan akan keberadaan orang lain di dalam kehidupan kita.

Karena itu mari kita tulis ulang paragraf di atas. Ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus tentang siapakah sesama manusia bagi dirinya. Dan Yesus menjawab kita tidak memilih siapakah sesama manusia bagi diri kita. Kita tidak memilih tetangga kita. Tepatnya kita tidak dalam posisi bisa memilih siapakah yang akan datang menyatakan diri sebagai sesama manusia bagi kita. Tetapi siapapun yang datang, kita mendapat suatu perintah. Sangat menarik dalam perikop ini, Yesus tidak sekalipun memberikan perintah yang baru kepada Ahli Taurat itu. Bahkan semua perintah sebenarnya keluar dari mulut Ahli Taurat tersebut. Yesus hanya berkata dengan sederhana di ayat 37, "pergilah dan perbuatlah demikian." Pergilah dan perbuatlah seperti orang Samaria tersebut. .Jangan tanya lagi siapa sesamamu manusia. Pergilah dan jadilah sesama manusia bagi orang lain.

Pada akhirnya kesimpulan dan tindakan yang harus kita aplikasikan memang tidak berubah sama sekali dengan adanya sudut pandang ini. Tetapi kita setidaknya bisa melihat hal ini sebagai suatu teguran bagi kita yang berpikir bahwa kita bisa menentukan siapa sesama manusia bagi diri kita atau bahkan menghakimi bahwa ada orang yang tidak menjadi sesama manusia bagi orang lain. Ini bahkan menjadi teguran bagi kita yang berpikir bahwa kita adalah pihak yang dapat menolong orang lain. Tidak. Yesus mengingatkan kita bahwa kita harus menjadi sesama manusia bagi orang lain. Bukan mencari sesama manusia bagi diri kita.

27 "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Selasa, 19 April 2011

The Why Me Attitude

This morning, a friend sent me a very inspiring story of a man named Arthur Ashe, the first African-American male to win a Grand Slam event (click on the word if you happened to be one of those sport-blind-nerds and had never heard of a Grand Slam event before). Anyway, the story was worth reading and sharing, so I thought that the blog needed a little update. Especially after I made a promise that I was going to update this blog more frequently (3 months ago).

Arthur Ashe, born on July 10, 1943, was a seven time Grand Slam finalist with three champion titles and four runner-ups. Many critics and sport commentators named him as one of the greatest tennis player of all times. But tennis wasn't his only fight in this world. He was also known for his role as a civil rights leader, especially on Apartheid issues.

Around 1983, when he was undergoing his second heart surgery, he apparently contracted HIV during the blood transfusion. This illness later led him to his deathbed.

Now, the story got interesting when one of his fans wrote him a letter asking something like, "why did God have to select you for such a bad disease?" His idol was the great tennis player, the respected activist, the pride of America, the inspiration for the Afro-American youth. It was unthinkable for anyone that he should receive such treatment from God. If anything, he should be rewarded for his deeds rather than be punished with HIV. Remember, in the early nineties, AIDS was far more scary than it is today because of the lack of information for common folks and people with AIDS received far worse treatment from the society as compared to today.

So the man, in his fifties at the moment, answered,
"listen, 50 million children around the world start playing tennis,
5 million learn to play tennis,
500,000 learn professional tennis,
50,000 come to the circuit,
5,000 reach the Grand Slam,
50 reach Wimbledon,
8 reach the quarterfinals,
4 to the semifinals,
2 to the finals.
When I was holding the cup, I never asked God, 'why me?'
So why now in pain should I be asking Him, 'why me?'"

This kind of faith reminded me of the faith of Job. As we all know, Job had a very bad day at the moment his wife came to him (probably remembering how devoted Job was to his God but yet this kind of misfortune fell upon him) and said, "do you still hold fast to your integrity? Curse God and die!" Just like Ashe's fan. And there, we witnessed Job answered, "shall we indeed accept good from God, and shall we not accept adversity?"

God is good all the time. May this story be a blessing for us all.

Jumat, 14 Januari 2011

Been A While...

It's been a while since my last post. Of course, I know that it's not like I have tons of follower waiting for a new post or anything, but still, it's been a while.

Well, I write. Usually I talk. But on occasions when there's nobody around listening or when I feel that written words can convey more than spoken ones, I write. Sometimes in Indonesian, sometimes in English (which I believe is a more comprehensive language). I've written more in the past since the era of the old word processor king Word Star 3.3 to the true type font era of Word Perfect until today when you write everything the Office way. I've had my share of storing my writings in 5.25" diskettes which were later replaced by 3.5" diskettes and later in hard disks and I've had my share of losing many many files along those changes as well. But all of that didn't matter. What I really want to say is this: I write. And I hope that my writings have somehow blessed somebody's life along the way, even if it's just one.

So far, there were only 15 posts prior to this one with the first post being some kind of a preface and the other 14 are impersonal faith related articles with some being published in a local church bulletin. And so I guess, I'll relax my rules a little bit and make this blog a bit more personal hence enabling me to update it more frequently (because I DO have a personal life) but I will still retain the spiritual values in most of the posts because that's what drove me to write this blog at the first place. In the end, I hope that somewhere between the words you can find something that enriches you.

So without further ado, I announce the relaunch of chiawono.blogspot.com ~ Life Is Too Short ~ God Is Too Kind ~ and may this blog serve it's purpose to all of you. Come by to visit often.

Thank you and God bless you.

PS: If you happen to have a Google or Blogspot account, please be kind enough to follow this blog. If you're a movie fan and you want a different kind of review of just want to discuss the movie, go to chiawonomovietalks.blogspot.com sometimes. I also write about places I've visited at chiawonotrips.blogspot.com (but at the moment there's only 1 post about a very fine dining place).

Selasa, 20 April 2010

Fun Facts #2 - Keluarga Daud VS Keluarga Goliat

Fakta menarik lain adalah bahwa adik dan kerabat-kerabat Goliat dari Gat yang merupakan keturunan raksasa juga tewas oleh Daud dan orang-orangnya (2 Samuel 21:15-22; 1 Tawarikh 20:4-8).


Berdasarkan urutan kemunculan di kitab 1 Tawarikh, inilah pertempuran yang terjadi:


  1. Sibkhai, orang Husa, melawan Sipai atau Saf, salah seorang keturunan raksasa. Pertarungan dimenangkan oleh Sibkhai dan orang Filistin di Gezer ditundukkan.
  2. Elhanan bin Yair (Elhanan bin Yaare-Oregim) dari Betlehem (Kota Daud) menewaskan Lahmi Goliat, saudara dari Goliat, yang gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun.
  3. Yonatan, keponakan Daud dari kakaknya, Simea, melawan salah satu keturunan raksasa yang memiliki enam jari pada masing-masing tangan dan kakinya (sehingga total berjumlah dua puluh empat). Keturunan raksasa tersebut melakukan kesalahan fatal dengan berani mengolok-olok orang Israel sehingga harus bernasib sama seperti Goliat, mati di tempat.
  4. Abisai, anak Zeruya, melawan Yisbi-Benob, seorang keturunan raksasa dengan tombak tembaga seberat tiga ratus syikal. Abisai meraih kemenangan mutlak walaupun Yisbi-Benob sempat mengira ia akan berhasil membunuh Daud. Kisah ini tercatat di kitab 2 Samuel.


2 Samuel 21:22 akhirnya mencatatkan kesimpulan cerita tersebut sebagai demikian, “Keempat orang ini termasuk keturunan raksasa di Gat; mereka tewas oleh tangan Daud dan oleh tangan orang-orangnya.”

Fun Facts #1 - Pedang Goliat

Kita semua tentu tahu bahwa Daud mengalahkan Goliat dengan menggunakan umban dan batu. Daud tidak mengenakan baju jirah atau membawa pedang, tetapi maju dengan kuasa Allah Israel. Kita semua mendengar kisah hingga batu yang diumban Daud melesat tepat mengenai dahi Goliat dan menyebabkan Goliat kehilangan nyawanya.

Bagi yang teliti membaca kisah yang tercantum dalam 1 Samuel 17 ini tentu mengetahui bahwa Daud kemudian mengambil pedang Goliat dan menggunakannya untuk memenggal kepala Goliat. Daud kemudian membawa kepala Goliat kembali ke Yerusalem tetapi meninggalkan pedangnya di medan perang (1 Samuel 17:51, 54).
Kelak pedang ini lalu dikumpulkan dan dibawa ke Nob dan ditaruh bersama-sama dengan Efod (baju yang dikenakan Harun dan para imam) di Rumah Allah.

Setelah berpisah dari Yonatan, ketika Daud sedang melarikan diri dari Saul, secara "kebetulan" ia lalu tiba di Nob. Di sana, pedang Goliat yang dikalahkannya lalu akhirnya kembali kepadanya (1 Samuel 21:9) dan menemaninya dalam perjalanan panjangnya melarikan diri dari Saul dan membebaskan orang Israel dari orang Filistin.


Berapa banyak senjata hasil rampasan perang hari itu yang dibawa dan disimpan di Nob? Ternyata hanya pedang Goliat tersebut. Sungguh suatu "kebetulan" yang mengingatkan kita bahwa pada awal pelariannya, dalam kondisi lapar dan tidak bersenjata, ketika Daud memilih untuk datang terlebih dahulu ke Rumah Allah meski akhirnya hal ini membahayakan dirinya dan orang-orang di sekitarnya, maka Allah menghadiahi Daud dengan senjata terkuat yang disimbolkan dengan pedang Goliat tersebut. Suatu simbol bahwa di masa lalu, ketika seluruh Israel gemetar, ketika suara sombong Goliat menggelegar di langit Israel, maka seorang anak muda muncul dan berkata,

"Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."

Itulah senjata terkuat Daud. Itulah senjata terkuat orang percaya. Amin.



Sabtu, 17 April 2010

What If There’s Only One Left?

Spoiler Alert: Be careful, what you’re about to read may contain spoilers to the movie: The Book of Eli.


It happened that I just watched one of the newest movies around the block called The Book of Eli. The movie told a story about a man, Eli, on the last part of his 30 year journey to the west to deliver the last known copy of the Bible (apparently the KJV). Long story short, the world suffered from a war (somehow related to the Bible) and later all the Bible in the world was burnt to ashes and only one copy remained. Of course, there are several major and minor bad guys along the movie trying to take away the Bible from him and he fought them off one by one using a combination of “protection from the high” and a menacing martial art.


Since I was not doing a movie review, I wouldn’t go at length on the (quite many) biblical references in the movie, but I would say that this is not a religious movie. In fact, I would say that the part that the Bible took in the movie was similar to the lost ark or the Holy Grail in Indiana Jones movies.


But nonetheless I felt a trickle in my mind tonight so I wrote this up. The big question in the movie was, “can Eli make it to the west and deliver the Bible?”


Halfway down the movie, while the actors were killing each other using guns and shotguns and grenades and bazookas, I realized that I already knew the answer to that question. Not because this was a Hollywood movie where 99% of the protagonists finished their jobs and kissed the girls, but because I remembered what two of Jesus’ disciples wrote in two different occasions. Of course, you’ll fine the other authors of the Bible wrote on this topic as well, but I guess two would be a sufficient ignition for us to study further on our own later. And by the way, just for the sake of the fun fact of the movie, I’d quote them in the KJV.


Matthew in his lengthy yet marvelous reportage of Sermon on The Mount, quoted what Jesus said regarding the Word of God. Matthew 5:18, “for verily I say unto you, till heaven and earth pass, one jot or tittle shall in no wise pass from the law, till all be fulfilled.” For me, it’s just wonderful. It’s like a double guarantee. If any part of the Bible’s going to vanish, then first, you’d have to wait until heaven and earth passed, and second, you’d have to wait until all the Word be fulfilled.


And then (of course) there’s Peter. I Peter 1:24-25, “for all flesh is as grass, and all the glory of man as the flower of grass. The grass withered, and the flower thereof falleth away; But the word of the Lord endureth for ever. And this is the word which by the gospel is preached unto you.” The Bible that we have today, that preached to us about God and Jesus and Holy Spirit, is in a totally different dimension from us. The Bible endures for ever (and ever). For Jesus Himself is the Word and He is the first and the last. And Jesus was preached unto us and we can be totally sure that Jesus would be preached from Jerusalem to Judaea to Samaria and to the uttermost part of the Earth. I believe God wouldn’t settle for less.


Well, in the end, the assurance that the Bible won’t vanish shouldn’t make us feel secure in any way that make us appreciate (and read) the Bible less. Remember, there were and there could be more times where people would crave for the Word of God but they didn’t receive any. The Bible and our history spoke to us about this. And remember, the Great Commission, the base of evangelism and discipleship, was not just a show in the Bible. It was meant to be a serious duty and we’re on a tour of duty even now. So, stop slacking and go preach the gospel.


Editor’s Note: this particular doctrine on the preservation of God’s Word can be further discussed under the subjects of the doctrine of the Bible, the infallibility and inerrancy of the Bible, the canonization of the Bible, and the authority of the Bible.

Kamis, 15 April 2010

The Casino Lifestyle: Care to Place A Bet?

Read this article from top to bottom. This is quite long, but I believe it’s worth the read. If you can outsmart the writer and predict what his answer’s going to be, then you win. In the other hand, if you’re just an average guy with the average answers, you lose.



Sometimes, we like to use analogies to depict our lives in order to get some points across. That’s of course legal. The Bible writers did that all the time. We compare our lives to wheels to remind us that sometimes we’re upside while some other times we’re down, or to a race to remind us of our goal and to never give up (Paul), or to grass and the flower of the field to remind us that everything is vain outside the Lord (Peter), or even to a box of chocolate to remind us that not all things are predictable (Forrest Gump’s Mother).



Now what if I recommend that in your leisure times, you imagine your lives as a casino and learn from it? What can you tell me? What can you share? I bet all my coins (pun intended) that you’ll tell me that the casino teaches us one of these three lessons. I bet that you won’t see the obvious lesson that I’m going to tell you and I’m going to tell you why.



Editor’s note: User experience may vary but take or give it’ll be similar so don’t come pestering me on small details if you lose.



First, for all of you who directly thought of a Black Jack table when you heard the word casino, you probably will speak about self control. You’ll come up to a conclusion about how to manage our resources and about how to draw just enough cards so that you don’t go beyond the threshold. Simpler minded fellows will speak about how life is all about taking chances.



Second, for you who’re more daring and imagined a Roulette wheel, you’ll probably share that in life, it’s the thrills that count. When your wheel starts to turn, there’s no telling where the ball will fall. If you’re a detail freak, you’ll probably add that in life, you can choose a color (and have a 50:50 chance of winning) or you can choose a number (and have a 1/38 chance of winning everything on the bet table).



And third, for those Casino Royale and Texas Hold’em fans, you’ll say that life, as it is in Poker game, is a game of wits. In life, you get to draw cards and throw away cards to make the highest possible arrangement of hands. Some melancholic readers will speak about how life is all about emotion while choleric readers will say that life is all about bluffing.



How am I doing so far? Good enough, I guess.



So what’s this bet all about? Before that, I’ll have to declare that if when I say casino you start thinking about Black Jack or Roulette or Poker or any other game, then I win. And there’s only one reason for this: you directly placed yourselves as a gambler. I place myself as a casino. That’s why I win as the casinos mostly do. You lose as the gamblers more often than not do. So let me show you some lessons from behind the tables and how to relate it to your spiritual lives.



First of all, the casino only plays the games they can win. I know up front that most of the article readers will think of the gambling rather than the casino even though I asked you to think about the casino (not the gambling). How can we determine if we can win a game or not? It’s the RoTG (Rule of The Game). In any game in a casino, there is NOT ONE game where your chance of winning is bigger than the casino’s. Why? It’s the RoTG. The RoTG favors the casino. In our spiritual life, be the casino. Be the one taking advantage of the RoTG. Be the one shuffling the cards and spinning the wheels. Be the one in favor of the RoTG. And I bet all of us can guess what our RoTG is. Psalm 1 speaks of those who play by the Book. And we can read clearly that they’re the winning ones, the ones that are like trees planted by streams of water and whatever they do prosper. Read your Bible and live your lives from it. Don’t be the occasional visitors. Be the one playing it every time of everyday.



Second, the casino plays by numbers. There is a 0% chance that one man can walk into a casino and make the casino bankrupt. We can do all the maths here, but in layman term, the casino limits their losses (or in other words, they limit your wins). We call this self control. When you walk to a table bringing $100,000 worth of chips, there aren’t many games where you can put all the chips in a single bet. While it’s true that this limits their earning per game, but more importantly, this limits their loss as well. They play one game at a time, surely taking away your chips from you slowly. Once or twice they lose but they are always prepared for another game if you still want it. Take this into account every time you bring yourselves to temptation. Control yourselves. Control your exposure to temptations. Control your distance from sin. Paul wrote to the Romans, “do not offer the parts of your body to sin,” when he addressed how we can easily tempted to wager our redeemed lives away only for fleshly desires.



The last thing we can learn from a casino today is probably the most important one for our lives in this post-modern era. The casino wins all the time because they are the casino. They do not get excited when they’re winning. They do not get angry or frustrated when they’re losing. They do not get tired of doing the same thing again and again and again day to day to day. Gamblers get excited, angry, frustrated, bored, tired, seduced, drunk, and all the other emotions when they play. And in the end, the casino wins. In our Christianity today, many build their faith upon experiences and emotions. These are shaky grounds. Christians want spectacular encounter with God. They want their sickness healed. They want supernatural languages. They want their emotions to be deeply touched by the music at the beginning of the mass at church and they want their bodies to be heavily rocked at the end of the service. They want someone telling them that they are dreaming God and going back and forth to heaven (and sometimes to hell as well). These are all experiences and emotions and these are (again) shaky grounds (and I think we all know that shaky grounds are dangerous, right?). Christians don’t like mundane routine of monastery-like lives. They don’t like waking up in the morning to read the Bible and pray. They want to wake up in the morning and miracles happen all day long. They don’t want to toil and work hard. They want to put their hands on whatever they want and place a purchase order to God. Too bad they don’t know that’s not the way how it works.



Faith is not build upon logic. We all know it by now seeing that Pilate didn’t free Jesus just as Festus and Agrippa didn’t free Paul after logic kicked in hard in both cases. Faith is not build upon eye witness. We found Thomas dumbfounded for thinking (and speaking) about it. Faith is not build upon proofs. We could see many Israelites faithless although Jesus did miracles after miracles in front of their noses. And now we have to admit that faith is not build upon experiences and emotions. Countless examples from the Bible can be taken, but one shocking truth can be learned from Matthew 7:22-23 that even a practitioner can build their faith upon something so wrong. So what should we base our faith upon? Ephesians reminds us that it is by grace through faith (2:8-10). Romans adds that it’s from faith to faith (1:17) and that faith comes from hearing the message, and the message is heard through the Word of Christ (10:17). Don’t be the gambler or occasional visitor who seeks excitement. Be the casino that grows its revenue day by day with poker face and strict rules.



In the end, I believe that when God saved us through His Son, Jesus Christ, He didn’t plan to gamble on us. He didn’t do it for the sake of seeing whether we make it till the end or not. We are meant to be winners. Jesus said, “I come that they (we) may have life, and have it abundantly (John 10:10b).” John later added in I John 5:4 that, “everyone born of God overcomes the world. This is the victory that has overcome the world, even our faith.” The same John (supposedly) then later added in Revelation 17:14 when speaking about the victory of the lamb that, “and with Him will be His called, chosen and faithful followers.”



Win!



PS: I am NOT a fan of casino or gambling (well, perhaps a little, just joking). It’s the message that counts. And I hope we are all mature enough to get it well and be edified from it.

Selasa, 14 Juli 2009

On Leadership

This entry was published at http://chiawono.blog.friendster.com/ on November 7, 2008 with the title On Leadership.

Bulan November 2008 ini merupakan bulan yang akan dikenang oleh orang di seluruh dunia sebagai bulan yang bersejarah. Saat ini, dunia sedang dilanda oleh krisis finansial dan perekonomian yang paling parah dalam sejarah perekonomian modern. Perusahaan-perusahaan keuangan raksasa satu per satu bangkrut. Harga minyak dan emas dan komoditas lainnya naik dan turun seperti mainan yoyo raksasa. Menyebabkan neraca perusahaan-perusahaan besar dan kecil berantakan. Amerika Serikat yang demikian adidaya malah merupakan sumber permasalahan dan mengalami kerugian yang paling besar. Rekor persentase kemajuan pasar modal Cina kini kalah oleh rekor persentase penurunannya. Bahkan Indonesia, Singapura, Australia, dan semua negara lain yang mungkin pernah kita kunjungi juga mengalami akibatnya. Dan inilah yang membuat bulan November ini akan sangat dikenang oleh banyak orang. Di bulan inilah akan dipilih presiden Amerika Serikat berikutnya yang akan memerintah selama 4 tahun ke depan.

Editorial ini ditulis pada minggu ketiga Oktober, tiga minggu sebelum peristiwa bersejarah itu terjadi. Saat kita membaca tulisan ini, mungkin presidennya bahkan sudah terpilih. Tetapi ada satu hal yang penting yang mungkin lebih membawa pengaruh terhadap dunia ini daripada apakah John McCain atau Barrack Obama yang menang. Yaitu harapan bersama rakyat Amerika dan bahkan dunia ini bahwa terpilihnya pemimpin Amerika Serikat tersebut di tengah situasi krisis seperti ini akan membawa suatu pemulihan terhadap badai ini. Dan hal inilah yang menyebabkan seorang pemimpin menjadi seorang yang penting. Karena kehadirannya membawa perubahan dalam diri rakyatnya. Dari keputus-asaan menjadi kelegaan. Dari ketakutan menjadi ketenangan. Kelak memang dia harus membuktikan apakah dia mampu menjawab tuntutan rakyatnya tersebut. Tapi itu akhirnya sudah menjadi urusan nomor dua. Karena pada saat dia datang, perubahan yang paling mendasar sudah terjadi.

Inilah mungkin sebagian kecil yang dapat kita selami tentang perasaan orang Yahudi dalam menanti-nantikan kedatangan Mesias mereka. Orang atau sosok yang akan masuk ke kota Yerusalem di atas punggung seekor kuda dan memimpin mereka keluar dari penjajahan yang mereka alami sekian lama. Seperti Musa memimpin nenek moyang mereka keluar dari perbudakan di Mesir dengan segala keajaiban, seperti Gideon memimpin 300 orang mengalahkan musuh atau seperti Daud memimpin laskar Israel mengalahkan orang Filistin, itulah gambaran kepemimpinan yang diharapkan dari seorang Mesias. Tetapi seperti itukah Mesias yang akhirnya datang ke dalam dunia ini? Alkitab menuliskan ternyata Mesias ini mengerjakan hal-hal yang lebih besar daripada mengalahkan orang Romawi atau bahkan memulihkan perekonomian dunia pada hari ini.

Injil mencatat kelahiran Mesias yang hidup selama 33 tahun dengan nama Yesus bin Yusuf. Lahir di Betlehem dan besar di Nazaret. Dan lalu Injil menuliskan kepada kita bahwa Dia yang adalah Tuhan yang datang ke dunia ini menjadi manusia mengemban suatu misi memimpin orang percaya keluar dari perbudakan dosa menuju kemerdekaan di dalam iman. Inilah tugas memimpin yang paling besar dan mulia sepanjang sejarah dunia ini. Dan Yesuslah Sang Pemimpin yang agung, Gembala yang baik, Penasehat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai, Kristus, Yang diurapi, Mesias, Anak Allah, dan Tuhan kita.

Memang benar ada banyak sekali aspek dalam kepemimpinan. Dan kita akan tahu pada waktu kita masing-masing bahwa setiap dari kita terpanggil menjadi pemimpin dalam kapasitas kita masing-masing. Maka pada bulan November ini sebagai tema dari BUCKS kita akan melihat ke dalam beberapa aspek tentang kepemimpinan tersebut. Tetapi mari kita mulai dengan bersama-sama mengingat bahwa ketika kita berbicara soal kepemimpinan, maka kita tidak boleh melupakan kepemimpinan Yesus dalam kehidupan kita yang memimpin kita dari gelap menuju terang sehingga kita dapat melihat dengan benar dan melihat Dia untuk lalu menjadi serupa dengan Dia. Setelah itu barulah kita melihat siapa dan bagaimana panggilan memimpin itu tiba dalam diri kita. Salam pemimpin.

(Artikel ini dimuat di BUCKS edisi November 2008 sebagai Editorial)

How Christian Am I?

This entry was published at http://chiawono.blog.friendster.com/ on July 29, 2008 with the title How Christian Am I?


Semua umat beragama (agama apa saja) pasti memiliki konsep menjadikan apa yang mereka sembah sebagai pusat kehidupan mereka dengan satu dan lain cara. Itu sebabnya dalam kepercayaan polytheisme mereka memiliki dewa asmara, dewa rejeki, dewi pengetahuan, dewa petir, dan lain-lain. Yang tercermin dari penempatan “kementerian” dewa ini adalah bahwa di dalam setiap aspek hidup umat dirasakan suatu keperluan untuk mengandalkan sesuatu. Hal yang sama juga terlihat dalam kepercayaan monotheisme, animisme, hingga dinamisme yang secara umum percaya bahwa mereka tidak dapat melepaskan kepercayaan mereka dari hal panen hingga jodoh.


Yang menjadi pertanyaan bagi kita hari ini adalah 2 hal ini. Yang pertama yaitu apakah kita mengetahui bahwa kehidupan kita sebagai orang Kristen tidak dapat dipisahkan dari Tuhan kita? Dan yang kedua adalah ketika kita mengetahui bahwa kehidupan kita tidak dapat dipisahkan dari Tuhan kita, maka seperti apa konsep dari hubungan antara Tuhan dengan kehidupan kita tersebut?


Hari ini sebagian besar orang Kristen dapat digolongkan ke dalam kelompok yang tidak mengetahui jawaban pertanyaan pertama dan kelompok yang tidak mengetahui jawaban pertanyaan yang kedua. Mereka yang tidak mengerti jawaban pertanyaan yang pertama adalah mereka yang berpikir bahwa kehidupan Senin hingga Sabtu berbeda dengan kehidupan mereka di hari Minggu. Mereka lalu memisahkan sedemikian rupa kehidupan rohani dan kehidupan sekuler mereka dan berpikir bahwa itu adalah normal. Kelompok ini berdoa ketika bangun tidur, sebelum makan, dan saat akan tidur kembali. Mereka datang di gereja di hari Minggu (dan mungkin juga pada hari Rabu saat Persekutuan Doa maupun hari Sabtu pada saat pembinaan) dan mengikuti semua kegiatan dengan khidmat. Tetapi ketika mereka tiba kembali di hari Senin, mereka kembali pada semua kebiasaan buruk dan dosa mereka. Tuhan tidak ada di dalam studi mereka, maka mereka menyontek. Tuhan tidak ada di dalam pekerjaan mereka, maka mereka menghalalkan segala cara. Tuhan tidak ada di dalam hubungan mereka, sehingga mereka bergaul dengan orang-orang bermoral rendah dan terpengaruh oleh mereka.


Orang-orang Kristen yang tidak berada di kelompok pertama di atas kemungkinan besar berada di kelompok kedua ini. Mereka yang tidak mengerti jawaban pertanyaan yang kedua adalah mereka yang hidup terlibat dengan suatu keyakinan bahwa Tuhan ada di dalam kehidupan mereka. Tetapi mereka tidak berusaha untuk mengenal Tuhan tersebut sehingga mereka tidak memiliki konsep yang benar tentang keterlibatan Tuhan di dalam hidup mereka tersebut. Akibatnya mereka menganggap Tuhan sebagai obyek semata dalam kehidupan mereka. Mereka berbicara mengenai Tuhan bahkan mungkin bersaksi mengenai Tuhan tetapi mereka tidak berusaha mengenal Tuhan lebih dalam. Mereka berdoa kepada Tuhan tetapi tidak memiliki pengertian doa yang memperkenankan Tuhan. Mereka menganggap Tuhan sebagai pemenuh kebutuhan (atau bahkan pemenuh keinginan) semata. Mereka “menyembah” kepada Tuhan yang memiliki atribut-atribut yang mereka tempelkan sendiri. Dan pada akhirnya sebagian besar dari mereka tidak lagi menyembah kepada Tuhan tetapi kepada kepercayaan diri mereka sendiri tentang Tuhan. Orang-orang ini tahu bahwa kehidupan finansial mereka berpusat pada Tuhan. Tetapi dengan pengenalan yang dangkal mereka hanya tahu bahwa Tuhan pasti memberkati mereka dalam hal finansial dan menjadikan mereka kaya. Mereka mau Tuhan terlibat dalam mereka mencari pasangan hidup. Tapi mereka menjadikan Tuhan sebagai mak comblang dengan memberikan sederet persyaratan kepada Tuhan atau menganggap semua mimpi sebagai petunjuk dalam memilih pasangan hidup. Mereka menjadikan Tuhan sebagai alat pemuas diri semata dan menganggap Tuhan mengerti hal tersebut dan akan memuaskan mereka sesuai kehendak mereka.


Jika apa yang kita perbincangkan sampai sejauh ini bahwa kebanyakan orang Kristen tergabung di dalam kedua kelompok ini adalah benar, maka berada di kelompok manakah kita? Apakah kita mengerti bahwa kedua kelompok di atas adalah kelompok yang ternyata masih belum memiliki hubungan dengan Tuhan yang benar? Tentunya kita tahu, pastilah ada kelompok ketiga yang ideal. Kelompok orang Kristen yang menjadikan Tuhan sebagai Penguasa dalam kehidupannya. Kelompok orang Kristen yang berintegritas dan dalam seluruh aspek hidupnya memuliakan Tuhan. Kelompok orang Kristen yang berjuang mati-matian menuruti perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Kelompok orang Kristen yang menjadi garam dan terang di dunia mereka dan menjadi berkat bagi setiap orang di sekitar mereka. Kelompok orang yang sungguh-sungguh Kristen.


Tapi sekali lagi sepertinya kita harus menunggu. Karena rasa-rasanya kita tidak mungkin berada di kelompok yang pertama.Kita mengerti betul bahwa tidak ada pemisahan antara kehidupan rohani dan sekuler. Kita mengerti betul bahwa dalam seluruh aspek kehidupan kita, kita harus menjadikan Tuhan sebagai pusat. Lalu setelah kita pikirkan kembali, rasa-rasanya tidak mungkin juga kita berada di kelompok yang kedua. Karena setelah melihat cirri-ciri mereka, kita tahu bahwa kita tidak terlalu mirip juga dengan mereka. Minimal kita tidak mau mengakui jikalau kita mirip dengan mereka. Jika demikian, apakah kita berada di kelompok ketiga yang ideal tersebut? Sayangnya, dengan segala kesombongan kita sekali pun, rasanya kita belum berhak untuk mengklaim keberadaan kita di sana. Ternyata kita hanyalah orang-orang Kristen tanggung yang tidak masuk ke dalam kelompok manapun karena kita terjebak antara keinginan daging dan keinginan roh. Dan setelah dipikir-pikir, sepertinya semakin lama kita semakin menjauh dari kondisi ideal tetapi kita semakin sulit mengakui kita memiliki kelemahan.


Karena itu pada kesempatan kali ini, marilah kita melihat bagaimana Paulus mengusulkan adanya kelompok keempat orang Kristen. Di Roma 12:1-2 Beliau berkata, “karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” John Ortberg pernah menuliskan tafsiran mengenai hal ini demikian, “kehidupan rohani bukanlah kehidupan yang terpisah dari kehidupan finansial, kehidupan pekerjaan, dll. Istilah kehidupan rohani hanyalah sebuah cara untuk membicarakan kehidupan seseorang setiap saat dan setiap seginya dari perspektif Tuhan. Tuhan tidak tertarik pada bagaimana Anda berdoa, bergereja, atau membaca Alkirab lebih teratur saja. Tuhan tertarik juga pada hidup Anda.”


Paulus mengusulkan kita dengan sadar dan dengan keinginan yang kuat dan dengan kesadaran akan kekuatan dari Tuhan untuk meninggalkan satu per satu keragu-raguan kita dan berjalan menuju ke kerumunan orang yang berada di dalam kelompok ketiga tersebut. Mungkin hari ini kita belum sampai di sana. Tetapi ketika kita berada di dalam perjalanan tersebut, kita memenuhi panggilan Yesus kepada kita untuk menjadi sempurna. Dan di tengah perjalanan tersebutlah kita belajar semakin mencintai Tuhan dan dengan demikian menjauhkan diri kita dari menjadi serupa dengan orang-orang di kelompok pertama dan kedua tadi sambil kita belajar merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita secara benar. Dan dengan demikian kita akan mengerti mengapa Paulus lalu menuliskan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Soli Deo Gloria, Amin.

Happy (Belated) Easter

This entry was published at http://chiawono.blog.friendster.com/ on July 29, 2008 with the title Happy (Belated) Easter.


Banyak orang sering membanding-bandingkan dua hari paling bermakna untuk orang Kristen yaitu Natal dan Jumat Agung dan Paskah. Tetapi biar bagaimanapun kita melihatnya, jika kedua hari tersebut disejajarkan dan dinilai satu per satu aspek yang ada di dalamnya, kita akan merasa bahwa Natal adalah pemenangnya. Ini satu hal yang wajar karena berbeda dengan Natal, Jumat Agung dan Paskah tidak diikuti libur yang panjang sehingga di tengah ritme hidup kita yang tinggi, rangkaian hari Jumat Agung, Sabtu, Minggu Paskah rasanya hanya akhir minggu yang sedikit diperpanjang. Perayaan Paskah pun rasanya sering dipaksakan di tengah-tengah kesibukan yang begitu banyak dan kehidupan yang tetap menunggu kita di Senin setelahnya. Beberapa saudara kita mencoba menambahkan hari-hari seperti Rabu Abu atau Kamis Putih. Sama saja sebenarnya.


Selain itu, berbeda dengan Natal, rasanya orang-orang di sekitar kita rasanya tidak peduli dengan Jumat Agung dan Paskah seperti mereka peduli bahkan menyukai hari Natal. Tidak ada yang memberikan kartu ucapan dan tidak ada promosi-promosi khusus di tempat-tempat kita biasa bergaul dan tidak ada yang merencanakan acara makan malam Paskah atau semacamnya. Orang-orang di luar sana rasanya tidak terlalu peduli dengan Jumat Agung dan Paskah dan ini membuat rasanya kita juga tidak terlalu peduli dengan hal ini.


Yang paling menyebalkan adalah bahwa pada saat Jumat Agung dan Paskah, orang-orang di gereja berusaha membuat kita merasa bersalah dengan terus-menerus mengingatkan bahwa sebenarnya Paskah lebih perlu perhatian kita dan pelayanan kita daripada Natal. Berbagai macam alasan dan ayat dikeluarkan. Tetapi kita tahu dalam hati bahwa nantinya pada tahun ini ketika mereka (dan kita) mempersiapkan Natal, mereka (dan kita) akan melakukannya dengan lebih sungguh-sungguh daripada ketika mereka (dan kita) mempersiapkan acara Paskah tahun depan. Jadi bagaimanapun juga, Natal memang lebih hebat daripada Paskah. Minimal itulah pemikiran kita sebagai manusia yang sangat senang mencari-cari tanda atau mencari-cari rasionalisasi atas segala sesuatu.


Karena itu, memasuki waktu-waktu peringatan Jumat Agung dan Paskah ini, sekedar untuk mengingatkan kita kembali, izinkah Saya untuk mengutip sebagian dari isi surat seorang tokoh yang sudah sangat kita kenal. Tentang Jumat Agung, ia menuliskan demikian, ”Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkah: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.”


Lalu tentang Paskah, ia menuliskan demikian, ”Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.”


Jangan salah tanggap tentang mengapa Saya menuliskan hal ini kembali. Saya yakin kita semua telah mengerti apakah itu Jumat Agung dan Paskah dan apakah kepentingannya. Tetapi kita harus mengakui bahwa kita hidup di Jakarta yang cukup nyaman dan membuat kita lupa tentang dosa dan kehinaan dan penjara dan penghukuman dan lain-lain hal tidak enak yang berhubungan dengan dosa. Yesus datang dan Yesus mati untuk menyelesaikan masalah ini. Kita tidak dapat menutupinya dengan telur Paskah atau kelinci Paskah atau perayaan Paskah dan lain-lain. Kita bahkan menutupinya dengan pra-anggapan bahwa Jumat Agung dan Paskah tidaklah sehebat Natal. Tapi inilah kenyataannya. Paskah bukan hanya berarti kemenangan. Paskah bukan hanya berarti hari depan yang cerah. Paskah bukan hanya berarti musim semi telah datang di dunia yang gelap ini. Bukan hanya itu. Jumat Agung dan Paskah adalah kita manusia berdosa dan diselamatkan dengan harga yang sangat sangat sangat mahal.


Selamat Paskah. Allah mengasihi Anda.


(Artikel ini dimuat juga di BUCKS GKY Pluit edisi Paskah 2008 sebagai editorial)

The Case with Genealogy

This entry was published at http://chiawono.blog.friendster.com/ on May 6, 2008 with the title For Selvi: The Case with Genealogy.


Banyak hal yang nampaknya normal di dalam kehidupan ini seringkali menyimpan misteri atau maksud tersendiri. Orang-orang biasanya tidak akan menyadari hal ini, tetapi seringkali, muncul orang-orang berpikiran kritis yang lalu mempertanyakan dan mendapatkan jawaban dan kemudian menjadi selangkah lebih berpengetahuan atau berpengalaman. Sebagai contoh, tidak pernah ada orang yang bingung melihat telinga kelinci karena kelinci memang dikenal sebagai binatang bertelinga panjang. Tetapi kemudian dari ensiklopedia kita menemukan bahwa ternyata kelinci memiliki telinga yang panjang karena alasan-alasan tertentu antara lain untuk dapat mendengar jauh.


Sebagai orang percaya, kita akan mengaminkan hasil ciptaan Tuhan. Tuhan tidak membuat sesuatu yang sia-sia. Termasuk juga di dalam proses inspirasi Firman Tuhan atau Alkitab. Tidak ada bagian yang dicantumkan secara sia-sia dan tidak ada bagian yang tidak terlalu penting sehingga dapat dicabut dari dalamnya. Yohanes dalam Kitab Wahyu memberikan peringatan yang sangat jelas tentang hal ini. Tetapi harus kita akui, ada bagian-bagian dalam Alkitab kita yang seringkali kita lewatkan begitu saja karena nampaknya sangat normal bagian tersebut berada di sana. Bahkan kita cenderung merasa bahwa bagian ini hanya merupakan pelengkap atau pengantar yang kurang penting dari bagian lainnya. Salah satunya adalah bagian silsilah Yesus Kristus.


Silsilah Yesus Kristus dapat kita temukan di Matius 1:1-17 dan Lukas 3:23-38. Terdapat sedikit perbedaan di dalam kedua bagian tersebut dan menimbulkan beberapa tafsiran yang berbeda, tetapi untuk sementara ini kita dapat abaikan hal tersebut. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah, mengapa perlu dicantumkan silsilah Yesus Kristus di dalam Kitab Injil? Dan dengan mengerti alasan mengapa silsilah tersebut dicantumkan, kita akan mengerti apa implikasinya bagi kita di dalam kehidupan kita di zaman modern dua ribu tahun setelah silsilah tersebut dituliskan.


Silsilah Yesus Kristus bukanlah sekedar bagian pembuka dari Injil Matius. Dalam Injil Matius, bagian ini sangat penting karena Injil Matius merupakan Injil yang sangat Yahudi. Ditulis oleh orang Yahudi dan ditujukan mula-mula untuk kalangan orang-orang Yahudi. Hal ini terlihat dari beberapa hal antara lain ketergantungannya pada janji dan nubuatan Perjanjian Lama, penggunaan istilah-istilah khas Yahudi (Israel), dan rujukan ke beberapa tradisi dan kebiasaan orang-orang Yahudi tanpa memberikan keterangan lebih detail tentang hal tersebut. Dengan latar belakang yang sangat Yahudi ini, silsilah Yesus Kristus menjadi sangat penting.


Orang Yahudi sangat memandang penting silsilah keluarga. Mereka menjunjung nama baik keluarga, tanah pusaka keluarga, garis keturunan dalam keluarga, dan lain-lain. Garis keturunan ini begitu pentingnya sehingga orang-orang Yahudi memiliki banyak aturan mengenai hal ini. Sebagai contoh, jika seorang kepala keluarga meninggal tanpa penerus, maka saudaranya harus menikahi isterinya untuk memberikan keturunan bagi saudaranya yang meninggal tersebut. Sesuatu yang mungkin konyol kedengarannya bagi kita pada saat ini. Ketika Matius ingin memberitakan mengenai Yesus, ia harus memulai dari memberikan asal muasal Yesus Kristus terlebih dahulu. Memunculkan tokoh tanpa latar belakang akan berakibat tulisan tersebut ditolak bahkan sebelum dibaca.


Kedua, pada saat Injil Matius dituliskan sekitar beberapa saat sebelum tahun 70 M, kemungkinan besar masih terdapat orang-orang yang terlibat dengan kejadian-kejadian seputar kehidupan Yesus Kristus. Setidaknya, keturunan pertama dari generasi yang sezaman dengan Yesus pasti masih ada. Sehingga dengan adanya silsilah tersebut, orang-orang Yahudi akan dapat berhubungan dengan fakta bahwa Yesus pernah hidup di tengah-tengah mereka, berbicara dan bertindak. Saudara-saudara dan teman-teman Yesus sendiri pun masih menjadi saksi akan kehidupan-Nya. Dicantumkannya silsilah ini menunjukkan keabsahan Injil Matius di kalangan orang Yahudi. Dan dengan ditunjukkannya keabsahan di kalangan orang Yahudi, bisa dipastikan juga keabsahan Injil ini dimana-mana.


Ketiga, salah satu poin yang mungkin paling penting, dalam silsilah ini terlihat suatu penggenapan indah dari nubuatan-nubuatan tentang kedatangan Mesias. Terutama dinubuatkan bahwa Mesias adalah Anak Daud dan berasal dari suku Yehuda. Ini menjawab kerinduan orang Israel secara umum akan datangnya Mesias yang sudah dijanjikan bagi mereka. Mereka terus mengingat bahwa Anak Daud akan datang dan menegakkan kembali tahta Daud dan tahta itu akan kokoh selama-lamanya.


Keempat, pencantuman silsilah Yesus Kristus dalam Injil Matius memunculkan berbagai macam drama tentang kisah di balik kelahiran Yesus berkaitan dengan karya-karya Tuhan yang terjadi sebelum kedatangan Mesias. Kita melihat Abraham dan mengingat cerita mengenai iman seorang yang disebut bapa orang beriman. Kita melihat Ishak dan Yakub dan Peres dan Tamar dan Rahab dan Rut dan Daud dan Batsyeba dan Salomo dan raja-raja Yehuda dan pembuangan ke Babel dan banyak lagi kisah-kisah dimana Tuhan berperan sangat besar. Kehadiran silsilah di awal Injil ini membawa pembacanya mengingat kembali akan besarnya karya Tuhan dan apa yang Dia lakukan dalam mempersiapkan kedatangan Yesus di dunia ini sebagai Mesias.


Sebenarnya masih cukup banyak alasan lain yang bisa kita gali sehubungan dengan dituliskannya silsilah Yesus Kristus di dalam kitab Injil. Kita juga dapat membahas mengenai penulisan Lukas dan pemilihan silsilah yang ia gunakan dan melihat sudut pandang non-Yahudi dalam peristiwa kelahiran. Tetapi untuk sementara ini, marilah kita melihat bahwa bagian ini ada di dalam Alkitab demi suatu maksud yang nyata. Dan itu adalah bahwa kita yang membacanya pada hari ini akan tertegun dan memperoleh suatu pemahaman bahwa karya Tuhan adalah suatu karya yang maha sempurna. Dipersiapkan dengan matang dan dibumbui berbagai macam nubuatan dan peristiwa dan digenapi dengan sempurna pada saat yang paling tepat. Dalam penggenapannya pun kita melihat bahwa secara tradisi dan sejarah pun kita dapat membuktikan hadirnya Anak Allah di dalam dunia ini.


Mengapa kelinci telinganya panjang? Pada akhirnya jawabannya adalah karena ingin menunjukkan kemuliaan Tuhan. Demikian juga dengan ditempatkannya silsilah Yesus Kristus yang bagi sebagian orang membosankan itu. ”Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” Amin.

Happy Parent's Day

This entry was published at http://chiawono.blog.friendster.com/ on May 5, 2008 with the title Happy Parent's Day.

Pencarian secara singkat pada Alkitab Terjemahan Resmi LAI yang biasa kita gunakan akan menghasilkan 274 kata ’keluarga’, 900 kata ’ayah’ atau ’bapa’, 1377 kata ’ibu’, dan lebih dari 3300 kata ’anak’. Ini belum memperhitungkan kata-kata yang merupakan turunan dari kata-kata tersebut seperti ’bapaku’ atau ’anaknya’ atau yang lainnya. Ini juga belum memperhitungkan kata-kata anggota keluarga yang lain seperti paman, cucu, cicit, suami, istri, nama suku, dan lain-lain. Ketika kita membaca Alkitab, kita akan menemukan begitu banyak pengungkapan hubungan keluarga di dalamnya baik secara harafiah maupun untuk menggambarkan sesuatu seperti hubungan Allah dengan orang percaya.


Secara sempit, kita akan menerima penjelasan bahwa keluarga merupakan suatu yang vital dalam kehidupan orang Yahudi. Orang Yahudi hidup dari zaman ke zaman dengan membawa nama keluarga mereka, baik itu kebanggaan dan nama besar maupun aib. Dalam konteks seperti inilah kita melihat di dalam banyak literatur orang Yahudi (termasuk Alkitab kalau boleh kita anggap sebagai salah satu literatur yang berasal dari mereka) akan banyak sekali penggambaran tentang latar belakang keluarga termasuk suku. Tetapi kalau kita memikirkan alur logis dari kebanyakan peradaban atau kebudayaan yang kita tahu, maka kita akan setuju bahwa tidak ada suku atau peradaban atau kebudayaan atau bangsa yang tidak memandang keluarga sebagai suatu yang vital.


Memang harus kita akui bahwa saat ini keluarga sudah mengalami pergeseran arti yang cukup parah. Ketika kita menanyakan tentang arti keluarga, maka kita akan menerima jawaban resmi berupa satuan unit ekonomi yang terkecil. Di dunia yang materialistis dan individualis ini, keluarga diciutkan maknanya dan hanya diambil makna ekonomisnya saja. Itu sebabnya sebagai remaja, baik sadar ataupun tidak, kita menganggap rumah sebagai mesin ATM dan hotel gratis dan lebih suka berada di luar rumah bermain bersama teman dan beraktivitas. Hubungan dengan orang tua juga tidak menjadi penting. Selama kita tidak memiliki masalah apa pun dengan mereka, maka kita berada dalam keluarga yang harmonis. Komunikasi yang kurang, keintiman yang berkurang, bahkan perjumpaan yang kurang seakan-akan tidak menjadi masalah sama sekali. Yang penting dalam keluarga jangan ada perselisihan dan pertikaian.


Tetapi yang menjadi pertanyaan untuk kita orang percaya, apakah itu cukup untuk menjadi satu keluarga yang diakui oleh Tuhan? Hari ini tidak semua dari kita adalah orang tua. Tetapi entah apakah kita adalah orang tua atau bukan, kita tidak mungkin ada di dunia ini kalau bukan sebagai anak. Dan sebagai anak, kita diberikan panduan-panduan khusus oleh Tuhan untuk kita taati seperti apapun orang tua kita. Ketika kita berbicara sebagai seorang anak tentang orang tua, maka mau tidak mau kita akan mengingat hukum ke-5 dari Hukum Taurat yaitu, ”Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu kepadamu.” Hukum ini menjadi menarik karena banyak alasan. Mari kita lihat tiga diantaranya sebagai satu awal kita mengingat bahwa jangan-jangan hari ini kita tidak berada di jalur keluarga yang diperkenan Tuhan sebagai seorang anak.


Yang pertama bisa karena dari kesepuluh hukum yang ada, hukum ini termasuk satu dari dua yang tidak dimulai dengan kata ’jangan’ dan menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki suatu partisipasi aktif dari penerima hukum ini. Paulus kelak mengingatkan kita bahwa kita menghormati orang tua kita karena haruslah demikian. Bukan karena kita menerima sesuatu atau karena mereka baik. Terutama bukan karena kita mengharapkan sesuatu. Tetapi kita menghormati karena haruslah demikian. Karena Tuhan menghendaki demikian.


Yang kedua adalah ini merupakan satu-satunya hukum yang disertai langsung dengan janji dari Tuhan. Hampir di setiap kutipan hukum ini di dalam Alkitab, frasa ”hormatilah ayahmu dan ibumu” disambung dengan kata ’supaya’ dan disertai janji umur panjang oleh Tuhan. Di bagian lain yaitu di dalam Injil Matius, Yesus mengutip ayat ini dan menyambungkan dengan suatu hukuman mati bagi yang gagal melaksanakan hukum ini. Ini adalah hukum yang penting terlihat dari penggambaran hidup mati kita pun turut dipengaruhi oleh hukum ini.


Yang ketiga, ini merupakan hukum yang seolah menjembatani hukum tentang Allah (1-4) dan hukum mengenai sesama manusia (6-10) seolah-olah mengingatkan lagi bahwa orang tua ada di dalam dunia ini sebagai wakil dari Tuhan sendiri untuk mendidik anak-anak yang lahir. Tuhan juga sebenarnya berkali-kali memberikan instruksi kepada orang tua dalam mendidik anak-anak mereka dan di dalamnya kita menemukan bahwa Tuhan mempercayakan masa depan dunia ini di dalam tangan orang tua-orang tua yang ada di dalam dunia ini.


Di luar segala keistimewaan ini, kita melihat bahwa hukum ini merupakan hukum yang serius yang kelak akan dikutip berkali-kali oleh banyak orang. Hubungan keluarga, terutama hubungan orang tua dengan anak merupakan dasar dari gereja Tuhan Ini juga sebabnya kita menemukan penggambaran hubungan orang tua-anak ini dalam hubungan kita sendiri dengan Tuhan. Yesus sendiri beberapa kali melukiskan hal ini secara sangat gamblang. Sehingga pada saat ini sudah tidak pada tempatnya lagi bagi kita untuk bermain-main dengan posisi kita di dalam keluarga terutama sebagai seorang anak dari orang tua kita. Pada akhirnya, kita tidak tahu apa yang terjadi dalam kehidupan orang tua kita sebelum kita lahir. Mereka juga tidak akan tahu apa yang terjadi dalam kehidupan kita setelah mereka pergi. Waktu kita berhubungan dengan orang tua kita hanya pada saat ini dan kita tidak terlalu bodoh untuk tahu apa artinya hal ini. ”Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu kepadamu.” Happy Parents’ Day.

Pernahkah Anda Berpikir Demikian?

This entry was published at http://chiawono.blog.friendster.com/ on March 8, 2008 with the title For Dennis: Pernahkah Anda Berpikir Demikian?

Dalam perjalanan hidup kita sebagai orang percaya, seringkali kita mendapati diri kita dibuat takjub dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan tentang iman kita yang muncul dari orang-orang di sekeliling kita. Takjub karena dalam keseharian kita dengan Tuhan, ini adalah tipe pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak akan kita tanyakan sendiri. Tulisan berikut ini dimaksudkan untuk menggambarkan dalam terang Firman Tuhan tentang apa yang menjadi landasan jawaban untuk satu pergumulan yang sangat menarik.

Pernahkah kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi seandainya akhir dari kisah-kisah yang kita temui di Alkitab berbeda? Maksudnya begini, ketika kita melihat perjalanan iman seorang tokoh Alkitab, maka kita akan menemui Abraham akhirnya mendapatkan anak, Yusuf akhirnya menjadi raja muda di Mesir, Ayub akhirnya mendapatkan kembali apa yang diambil darinya, para hakim akhirnya menang atas musuh, Daniel dan kawan-kawan dibebaskan dari mulut singa dan api yang menyala-nyala, Simeon akhirnya melihat Tuhan, dan seterusnya. Apa yang terjadi SEANDAINYA akhir dari semua cerita tersebut berubah? Apa jadinya jika Abraham tidak mendapatkan anak dan Yusuf tidak pernah dijual ke Mesir? Apakah akan ada kitab Ayub jika seandainya dia mati dengan tangan kosong? Atau apakah kegagalan-kegagalan dengan mudah dicabut saja dari Alkitab pada saat Alkitab disusun sehingga hari ini kita tidak perlu membaca kisah-kisah gagal tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat menarik untuk dipikirkan. Tetapi sebelum lebih jauh kita melangkah, kita perlu mengerti bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak valid karena alasan berikut ini: Kita tidak mungkin menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut karena hal tersebut sudah terjadi. Berpikir seperti apa pun, apa yang sudah terjadi tidak mungkin diubah. Kita harus mengerti bahwa dengan mempertanyakan suatu kenyataan, kita melatih diri untuk menjadi lebih sensitif terhadap banyak kenyataan di depan kita dan bukan mengharapkan terdapatnya suatu kesalahan di dalamnya.

Pemikiran kita dalam menjawab hal ini perlu kita mulai dari bertanya, apakah ada kisah kegagalan dalam Alkitab. Jika ada maka kita perlu mengetahui kisah siapa dan jika tidak ada kita perlu mengetahui alasannya. Sebelum kita mencari tahu jawabannya, mari kita mulai dari satu asumsi, entah benar atau tidak, bahwa di dalam Alkitab, semua kisah yang tercatat adalah kisah yang sukses pada akhirnya. Pemikiran ini berdampak apapun yang dihadapi oleh seorang pengikut Tuhan baik atau buruk hal yang dia alami, maka Tuhan akan beserta dengan dia dan pada akhirnya dia akan mendapatkan satu penghargaan atas imannya. Jika demikian, apa yang mendasari hal ini? Kita dapat menemukan banyak ayat yang mendukung hal ini. Yaitu bahwa Tuhan memberikan janji penyertaan-Nya kepada semua anak-anak-Nya. Di Perjanjian Lama misalnya kita dapat menemukan Kejadian 50:20 hingga di Perjanjian Baru kita menemukan Roma 8:28. Masih terdapat ratusan bahkan ribuan janji Tuhan yang bisa kita temukan di dalam Alkitab, tapi marilah kita mengerti satu hal ini bahwa Tuhan menjanjikan suatu kehidupan yang lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37) dan berkelimpahan (Yohanes 10:10b) dan berkecukupan (Filipi 4:19) dan penuh kuasa (Filipi 4:13) dan penuh penyertaan (Markus 16:17-18) dan lain-lain dimana memerlukan satu telaah yang menyeluruh terhadap Alkitab untuk menemukan semuanya. Dan Tuhan adalah Allah yang setia (Ulangan 7:9) yang akan menepati semua janji-Nya. Dan karenanya adalah satu hal yang sangat wajar jika lalu kita menemukan semua kisah perjuangan iman seorang Kristen berakhir dengan suatu kesuksesan.

Tapi kesuksesan yang bagaimana yang sekarang perlu kita kejar? Mari kita lihat bahwa ternyata di dalam Alkitab terdapat kisah-kisah penuh kegagalan. Walaupun tadi kita memulai dengan asumsi kisah yang ada di Alkitab adalah kisah sukses semata, tapi ternyata di dalam Alkitab terdapat kisah-kisah yang mungkin menurut kita adalah suatu kegagalan. Kita tidak akan lupa akhir hidup dari Salomo, raja terakhir dari Israel yang pertama. Tuhan berfirman kepada Salomo suatu janji penyertaan pada 1 Raja-Raja 9:3-9. Tetapi pada akhirnya Salomo gagal dan dicatatlah kegagalan besar ini dalam 1 Raja-Raja 11:6. Sangat menyedihkan melihat kehidupan penuh penyertaan dan berkat berakhir dengan kutukan yang mengoyakkan kerajaan Israel. Kita juga tidak lupa kepada Yunus yang sampai pada akhir kisahnya dalam kitab Yunus tidak mengerti rencana dan kehendak Allah. Dan ingat kepada Ham yang membantu ayahnya membuat bahtera dan akhirnya selamat dari air bah. Tetapi berakhir dikutuk oleh ayahnya sendiri dan menjadi bapa dari bangsa yang ”hina” sepanjang sejarah Israel. Dalam perjanjian baru, kita tahu Stefanus yang akhirnya mati martir, Yohanes Pembaptis yang dibunuh, hingga Para Rasul yang dipercaya banyak juga yang mati martir dalam perjalanan iman mereka. Apakah ini suatu pertanda tidak adanya penyertaan Tuhan dalam kehidupan mereka?

Kita akan lalu berargumen bahwa apa yang dikategorikan sukses oleh manusia dan sukses oleh Allah itu adalah dua hal yang berbeda. Dan di sinilah justru sebenarnya kunci dari jawaban pertanyaan kita di atas. Kita ingin apa yang Tuhan rencanakan di dalam kita berhasil (Efesus 2:10) dan hal ini terlepas dari apakah pada akhirnya kita menjadi raja muda di Mesir atau mati di penjara bawah tanah. Keduanya memiliki kebanggaan tersendiri. Inilah yang dikatakan Paulus sebagai kemuliaan yang berbeda antara matahari, bulan, dan bintang-bintang (1 Korintus 15:41).

Marilah kita melihat kehidupan seorang imam yang biasanya jauh dari lampu sorot kecuali sebagai pembuka dari kisah Samuel. Imam Eli menjabat imam di Silo dan kebetulan berada di sana ketika Hana berikrar menyerahkan Samuel kepada pekerjaan di tempat persinggahan Tabut Perjanjian tersebut. Imam Eli menjadi imam selama 40 tahun dan mati di kursi setelah mendengar kabar bahwa anak-anaknya (yang jahat) telah mati. Inilah kehidupan seorang imam yang gagal. Tapi diantara semua orang Kristen yang tumbuh sejak dari SekolahMinggu, mereka tidak tahu hal tersebut sama sekali. Apa yang mereka tahu adalah bahwa imam tua ini menerima Hana dan memberkatinya. Lalu mereka ingat bahwa kelak beberapa tahun kemudian dia memberi bimbingan rohani kepada Samuel kecil tentang bagaimana dia harus peka terhadap suara Tuhan. Dan kelak inilah peristiwa yang mengubah wajah Israel di masa depan. Iman seorang Imam Eli yang sangat jarang kita dengar dapat kita lihat dalam 1 Samuel 3:18. Dalam 3-4 pasal awal kitab 1 Samuel kita melihat kemenangan dan kekalahan seorang imam tua. Tapi kita mengerti bahwa di luar segala kegagalannya dia telah menghasilkan seorang Samuel yang membawa Israel memasuki era baru mereka. Marilah kita mengerti bahwa Allah bekerja dengan gambar rancangan yang sempurna. Yang mungkin tidak dapat dilihat oleh Eli ketika dia menyaksikan anak-anaknya yang jahat atau Abraham ketika berumur 99 atau Yusuf ketika dijual ke Mesir atau Yunus ketika terpaksa memberitakan Firman Tuhan. Tetapi Tuhan tidak kurang panjang tangannya untuk umat-Nya dan itulah yang perlu kita percayai di luar segala pertanyaan kita. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memberikan teladan kepada kita tentang hal ini. Sebelum mereka dibebaskan dari api perapian yang menyala-nyala, bahkan sebelum mereka dimasukkan ke dalam api tersebut, mereka sudah mengatakannya dengan jelas, ”Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja (Nebukadnezar); tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Tuhan menyertai.

Happy New Year (OR NOT)

This entry was published at http://chiawono.blog.friendster.com/ on January 7, 2008 with the title Happy New Year (OR NOT).


Tahun 2008 adalah tahun yang baru. Menjelang pergantian tahun, kita menghitung mundur menuju tahun baru. 6, 5, 4, 3, 2, 1, dan tahu-tahu kita sudah berada di tahun yang baru. Tahun baru yang diharapkan menjadi tahun yang lebih baik. Kita memperlengkapi diri dengan semangat baru, resolusi baru, rencana baru, baju baru, sepatu baru, dan semua yang baru-baru. Dengan optimisme tinggi kita melangkah menuju ke hari depan yang baru. Tahun 2008. Inilah tahun yang baru untuk kita. Inilah saatnya kita unjuk gigi. Inilah tahun kita.


Stop di sana. Benarkah demikian? Hal ini pasti ada dalam benak sebagian besar dari kita. Tahun baru terasa sebagai momentum yang menggelegar bagi kita. Tapi sekali lagi, benarkah demikian? 1 Januari 2008 pukul 00:00 hanyalah 31 Desember 2007 23:59 ditambah 1 menit. Lebih spesifik lagi kita dapat mengatakan itu hanyalah tahun yang lama ditambah 1 detik. Apa yang baru kalau demikian? Pengkotbah, Sang Raja Yerusalem, menuliskan dengan getir bahwa tidak ada sesuatupun yang baru di bawah matahari. Matahari terbit dan terbenam dan akan terulang lagi terus-menerus melewati minggu, bulan, tahun, abad, dan tetap akan demikian. Tidak ada yang baru sama sekali.


Apa yang berubah di tahun yang baru? Kita berharap banyak hal berubah ke arah yang lebih baik. Tapi sayang sekali keinginan kita mungkin tidak akan terwujud sama sekali. Matius 24 mengutip nubuatan Yesus bahwa semakin menjelang akhir zaman, Bumi akan menjadi tempat yang semakin tidak aman dan nyaman untuk ditinggali. Global Warning yang kita dengar belakangan ini, ternyata sudah disuarakan Yesus jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan bukan hanya Bumi saja, tetapi manusia pun semakin terjerumus ke dalam rupa-rupa kesukaran dan dosa. Hal ini dapat kita temukan dalam surat Paulus kepada Timotius.


Jadi, seburuk itukah tahun 2008 ini bagi kita? Salahkah kita ketika memperingati pergantian tahun dengan euforia setinggi-tingginya seperti yang kita lakukan? Tentunya tidak sama sekali. Perhatikanlah beberapa paragraf berikut ini dengan seksama.


Orang Yunani memiliki cara yang unik memandang waktu. Mereka memandang waktu menurut dua definisi dan filsafat. Yang pertama adalah waktu sebagai kronos. Filsafat di balik ini mirip dengan apa yang dilukiskan Pengkotbah yaitu bahwa hari ini berlalu dan besok datang dan besok menjadi hari ini dan hari ini akan berlalu dan besok datang dan besok menjadi hari ini dan seterusnya. Menjalani hidup kita dari hari ke hari dengan mengetahui bahwa hari ini akan menjadi kemarin dan besok akan menjadi hari ini dan hidup kita akan sama-sama saja. Inilah Sang Waktu sebagai kronos. Dengan berpikir seperti demikian, maka 1 menit perbedaan tahun 2007 dan 2008 adalah sama saja dengan 1 menit perbedaan 1 menit yang lalu dan sekarang dan sama saja dengan setiap menit yang ada dalam hidup kita.


Tetapi cara pandang yang kedua dikenal dengan sebutan kairos. Filsafat di balik definisi ini sangat menarik karena seolah-olah kronos ditarik keluar setiap elemennya dan dijadikan satu elemen yang berdiri sendiri dan dipajang agar kita dapat melihatnya satu per satu. Kairos adalah filsafat bahwa waktu tidak akan terulang. Kairos berarti waktu adalah kesempatan. 1 menit pergantian tahun dan 1 menit setelahnya adalah menit-menit yang sangat berbeda. Ini lalu membawa kita ke dalam satu pengertian bahwa setiap waktu yang ada sangat mahal harganya dan harus dipandang sebagai satu kesempatan. Inilah cara pandang Paulus ketika ia menuliskan perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Paulus mengerti bahwa 1 menit yang tidak dipergunakan untuk hidup bagi Tuhan adalah 1 menit yang sia-sia. Inilah sebabnya kita memandang setiap awal tahun dan saat-saat tertentu dalam 1 tahun sebagai momentum untuk lebih menggairahkan hidup kita. Inilah sebabnya kita melakukan retrospeksi dan membuat resolusi. Karena hari-hari ini adalah jahat dan Tuhan menghendaki kita mempergunakan kairos yang ada dengan sebaik-baiknya.


Ada baiknya bagi kita untuk belajar mempergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya dengan belajar kepada seorang bijaksana yang pernah hidup selama 120 tahun. Selama hidupnya ia pernah tinggal di berbagai tempat, memiliki beberapa kewarganegaraan, dihormati, memiliki segalanya. Pernah juga ia diusir dari tempat tinggalnya, hampir dibunuh bahkan sejak bayi, menggembalakan domba dan menggembalakan orang-orang yang sering menolaknya, dan banyak lagi pengalaman yang ia miliki sebagai pejabat, imam, gembala, panglima perang, nabi, pelarian, dan lain-lain. Musa, ratusan tahun sebelum Pengkotbah hidup, mengajarkan kepada kita bahwa Tuhanlah yang dapat mengajarkan kepada kita bagaimana menghitung hari-hari sedemikian sehingga kita memperoleh hati yang bijaksana.


Mengapa penting sekali bagi kita untuk menghitung hari-hari kita? Pengkotbah yang semula mengeluhkan tentang kronos yang monoton akhirnya pun mengajarkan kepada kita bahwa dalam kita menjalani hidup kita, tidak mungkin kita dapat menyelami pekerjaan Tuhan seluruhnya. Karena itu, hitunglah hari-hari kita, berharap kepada Tuhan dan kasih-Nya yang besar dan percayalah, seperti dipercaya juga oleh Sang Pengkotbah, bahwa Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya bahkan Ia memberikan kekekalan di dalam hati kita. Amin. Selamat tahun baru 2008.

Semoga Alkitab (Jangan) Salah

This entry was published at http://chiawono.blog.friendster.com/ on December 29, 2007 with the title Semoga Alkitab (Jangan) Salah.

Ketika kita berbicara mengenai keabsahan Alkitab seperti sering kali kita lakukan, maka ada baiknya terlebih dahulu kita mengakui dengan jujur satu hal: Kita lebih senang kalau ternyata Alkitab itu salah. Kaget? Tidak mau mengakui? Perlu bukti? Boleh.

Pertama, kita lebih senang jikalau Alkitab itu ternyata tidak sinkron. Kita senang memperdebatkan mengapa Paulus mengatakan keselamatan hanya karena iman sedangkan Yakobus mati-matian mengatakan iman tanpa perbuatan adalah mati. Dan bukan hanya kita, Martin Luther sendiri ternyata pernah mempertanyakan hal yang sama. Kita penasaran mengapa penulis Injil tidak sepaham tentang apakah Yesus masuk atau keluar dari sebuah kota. Kita merasa sangat seru karena ternyata dalam dua kitab yang berbeda terdapat ketidaksepahaman tentang apakah Daud menghitung laskar Israel atas suruhan Tuhan atau Iblis. Kita merasa Alkitab ternyata lebih seru jikalau tidak sinkron.

Perlu bukti yang lain? Ternyata kita juga lebih senang jikalau Alkitab ternyata bukanlah seperti yang kita kenal saat ini: gabungan dari kitab sejarah, puisi, surat, dan entah materi membosankan apa lagi yang memusingkan mata kita ketika kita membukanya. Kita lebih senang jika Alkitab ternyata adalah sebuah game / puzzle / misteri. Tidak ada seorang pun yang tidak buta huruf yang tidak mengenal buku The Bible Code. Buku bestseller di pergantian milenium yang menyita perhatian seluruh dunia. Ternyata Alkitab dalam bahasa aslinya adalah sebuah kumpulan sandi yang berisi nubuatan tentang sejarah dunia. Terbukti dengan berhasil dibongkarnya kode penbunuhan PM Israel dan sederet peristiwa besar dalam sejarah lainnya. Dan bayangkan! Itu semua ditulis ribuan tahun yang lalu. Menakjubkan. Masih ada lagi! Ternyata akhir zaman juga dapat diramalkan asalkan kita dapat membongkar kode dalam Alkitab tersebut. Sangat menegangkan bukan? Rasanya ingin segera membeli Alkitab versi bahasa asli tersebut dan mulai membacanya.

Mungkin sebagian dari kita belum cukup kritis atau dewasa ketika The Bible Code mengguncang dunia dan kita melewatkan kesenangan tersebut. Jangan khawatir. Asalkan kita mau percaya bahwa Alkitab ternyata adalah suatu hasil rekayasa, kita juga bisa bergabung dalam kelompok di atas. The DaVinci Code menawarkan teori konspirasi Alkitab. Ternyata Alkitab adalah hasil rekayasa dari Gereja Roma Katolik semata. Apa yang sesungguhnya terjadi tercatat dalam bahan-bahan lain yang disembunyikan hingga sekarang. Dijaga oleh ksatria-ksatria dan ilmuwan-ilmuwan pengikut Jalan Kristus. Betapa senang kita dengan teori ini sehingga sebagian besar dari kita sudah habis membaca bukunya dan menonton filmnya dan mengikuti diskusinya di berbagai media sampai-sampai kita lupa bahwa ternyata kita belum habis membaca Alkitab kita. Ah, tidak masalah. Toh ada kemungkinan buku itu cuma hasil rekayasa kok.

Sebelum terlupakan, kita juga lebih senang kalau Alkitab ternyata tidak lengkap. Itu sebabnya kita merasa ‘iri’ kepada teman kita yang Katolik karena Alkitab miliknya lebih tebal. Kita penasaran dan ingin mengintip apa isi buklet yang ada di tengah itu. Teman-teman kita yang lain (yang sering kita kenal dengan sebutan bidat) dengan mudah menambahkan kitab-kitab lain sebagai pendamping Alkitab. Dan sebaliknya, terkadang kita juga lebih senang kalau Alkitab dapat kita korting. Cukuplah kita dengan perjanjian baru saja. Toh perjanjian lama sudah kadaluwarsa. Buat apa lagi kita pelajari? Paling banyak kita sisakan saja Kitab Mazmur dan Amsal. Sisanya tidak perlu lagi.

Kita lebih senang kalau ternyata Alkitab itu salah. Itulah sebabnya Injil Yudas Iskariot, Injil Barnabas, Injil Maria, Injil Tomas, dan mungkin juga (kalau ada) Injil Agus menjadi bestseller begitu mereka diterbitkan dan diterjemahkan. Alkitab boleh jadi buku terlaris sepanjang masa. Tapi yang pasti bukan pada masa ini. Karena itu, mari kita akui saja: Kita lebih senang kalau ternyata Alkitab itu salah. Dan jangan-jangan kita ternyata mengharapkan bahwa Alkitab itu salah? Jika demikian, ini menjelaskan mengapa kita sangat malas membuka Alkitab kita. Bisa jadi Alkitab itu salah. Wah. Wah. Wah.

(Artikel ini dimuat juga di BUCKS GKY Pluit edisi Juni 2007 sebagai Editorial)